PELUPA
Aki Rahul dan Nini Sakyah adalah kakek dan nenek yang tinggal di suatu desa dan mereka tinggal hanya berdua. Meskipun usia mereka sudah di atas 60 tahun tapi mereka masih sangat kuat dan sehat. Setiap hari Aki rahul pergi ke sawah untuk menggarap lahan pertaniannya, begitupun dengan Nini sakyah selalu pergi ke pasar untuk berjualan. Tapi meski begitu pengetahuan mereka tentang agama sangatlah rendah, mereka tidak begitu paham dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama.
Pada bulan ramadhan mereka berdua juga ikut berpuasa meskipun mereka tetap melaksanakan aktifitas mereka seperti biasanya. Pagi-pagi sekali Aki Rahul sudah bersiap-siap untuk pergi ke ladangnya karena dia harus segera menyelesaikan pekerjaan yang kemarin tertunda.
Sebelum berangkat Aki Rahul menghampiri Nini Sakyah dan berkata
Aki : nini, Aki mau berangkat keladang pagi-pagi karena harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin, banyak sekali rumput di lading kita.
Nini : Ya ki.., mumpung masih pagi mending segera berangkat.
Aki : Oh ya ni bekal untuk makan siang saya sudah di bungkus apa belum? Sekalian sama airnya ni.
Nini : Loh aki ini gimana sih, ini kan bulan Ramadhan terus Aki kan juga lagi puasa, masa harus bawa bekal sama air segala ki?
Aki : Eh,,, ya memang ni aki juga tahu ini bulan Ramadhan dan Aki juga lagi puasa,tapi kan nini tahu aki ini sudah tua dan kadang-kadang suka lupa. gimana nanti kalau aki lupa kalau aki lagi puasa. Aki mau makan apa ni?
Nini : oh ya ki, Aki bener juga. Ya udah tunggu ya ki nini bungkusin dulu bekalnya, Airnya Nini taruh di botol bekas bir saja ya ki?
Aki : ya ni udah cepat nanti keburu siang.
SALAH TANYA
Anak Remaja memang kadang sesukanya sendiri, sama halnya ketika mereka naik sepeda motor di jalanan. Banyak sekali tingkah laku anak remaja yang sebenarnya tidak sesuai dengan norma masyarakat. Anak kelas 1 SMP sudah berani bawa sepeda motor di jalan raya. Kalau pas kebeneran ada Polisi mereka juga yang susah sama seperti cerita Udi dan Uda.
Suatu hari Udi dan Uda sedang mengendarai sepeda motor. Pas di Jalan Martadinata banyak sekali Polisi yang sedang memeriksa kendaraan-kendaraan yang lewat. Secara otomatis mereka berdua sangat terkejut, sebab selain mereka tidak membawa SIM mereka juga tidak membawa STNK. Mereka berdua beruasaha mencari solusinya.
Udi : Aduh…., gimana nih, kita sudah pasti akan di tilang
Uda : ya bener kita bakal di tilang….,
Udi : Kamu biasanya banyak akalnya da, coba kamu berfikir.
Uda : aku punya ide…, Aku nanti pura-pura nanyain jalan sama bapak Polisi. Biasanya kalo kaya gitu kita kelihatan gak punya salah.
Lalu kemudian mereka berdua menghampiri Polisi yang sedang beroperasi dengan harapan cara mereka akan berhasil. Sebelum Polisi berkata apa-apa. Uda lansung bertanya terlebih dahulu.
Uda : Pak…, kalau jalan Martadimana sih dinata pak?
Saking takutnya dan gemeter Uda salah bertanya, selain itu Uda juga ngomongnya terbata-bata
Melihat uda kaya gitu bapak Polisi gak sedikitpun tertipu, Uda dan Udi langsung saja di tilang.
SURAT VS SMS
Di zaman teknologi yang berkembang sangat pesat ini manusia bias melakukan kegiatannya dengan cepat dan mudah. Begitupun dalam bidang komunikasi, kita bias berkomuniksai jarak jauh secara langsung tanpa harus lewat surat. Dampak dari semua ini yaitu menurunnya pengguna Pos sebagai sarana untuk menyampaikan surat. Sampai akhirnya kepala kantor Pos mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan kembali pengguna Pos.
Kepala kantor Pos : sekarang orang sudah jarang yang menggunakan surat sebagai alat komunikasi,mereka lebih memilih hp untuk menyampaikan berbagai informasi. Karena hal tersebut maka sekarang sudah diputuskan bahwa kantor-kantor dinas pemerintah di anjurkan memakai surat untuk tujuan-tujuan kedinasan baik yang bersifat formal ataupun semi formal.disamping hal itu nanti kita akan mnyelenggarakan pemilihan nominasi pengirim surat terbanyak, untuk yang terpilih nanti akan mendapatkan hadiah dari kantor Pos.
Pekerja kantor Pos : Mohon maaf pak. Bagaimana kita member tahu anjuran ini kepada kantor-kantor dinas?
Kepala kantor pos : lewat sms saja biar lebih cepat dan murah
Ihdina……., Sirotol Mustaqim
Ada salah sorang jamaah haji dari sunda di tanah suci mekah.ia terseset ketika hendak thowaf mengitari ka'bah.ia telah mencari cari dimanakah masjidil haram.mau bertanya ia hanya bisa berbahasa sunda.padahal dari tadi tidak dijumpai orang yang sekampung denganya.Alangkah gembiranya orang sunda itu ketika bertemu dengan jamaah lain yang kulitnya sama.disangkanya orang itu berasal sedaerah denganya,maka dengan bahasa sunda yang lancar ia bertanya,"Punteeen!palih mana nu badhe ka masjidil haram.?( yang artinya maaf, sebelah mana jalan menuju masjidil haram?)ternyata jamaah yang ditanya bukan orang sunda,dia orang jawa yang hanya mengerti bahasa jawa.karena itu orang tersebut menggeleng seraya menjawab,"Lha....mboten ngertoss."artinya tidak mengerti apa yang ditanyakan.
Tetapi orang sunda itu tidak kehabisan akal.ia berfikir orang jawa itu toh biasa sholat dan pasti mengerti bahasa jawanya al-fatihah.sebab surat itu wajib dibaca setelah sholat.lantas berkata,"puunten...!ihdinaa masjidil haram.??"(ihdinaa adalah salah satu kalimat dalam surat al fatihah yang maknanya berilah kami petunjuk).Betul juga.orang jawa itu paham maksudnya,maka sambil tertawa orang itu menjawab,"shirotol mustaqim"itu juga terdapat dalam surat al fatihah yang berarti jalan terus.Orang sunda itu dengan suka citanya mengucapkan terima kasih,maka jalan terus kedepan.beberapa langkah dimuka ia agak kebingungan yang lurus jalanya agak kecil,sedangkan yang lebar jalannya kesebelah kiri.jadi ia menempuh jalan agak kekiri itu karena lebar.Dari kejauahan orang jawa tadi berteriak,"waldhoolin....mustaqiim"."jangan tersesat lurus saja."Dengan peringatan yang terakhir itu,orang sunda tersebut berhasil mencapai tempat yang dituju.
Khutbah Nasruddin …
Suatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.Ketika tiba di mimbar, dia mendapati bahwa sebagian besar hadirin dalam majelis itu tidak terlampau bersemangat untuk mendengarkan khutbahnya. Sesudah menyampaikan salam, Nasruddin bertanya kepada hadirin, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Hadirin serempak menjawab, “Tidak !” Sebab itu Nasruddin berkata, “Aku tidak punya keinginan untuk berbicara kepada orang-orang yang tidak mengetahui apapun tentang apa yang akan aku bicarakan” kemudian berjalan turun dari mimbar dan meninggalkan majelis.Orang-orang merasa tidak enak hati kepadanya dan mengundangnya lagi pada keesokan harinya.
Keesokan harinya, sesampai di mimbar, Nasruddin mengulang pertanyaan yang sama dan hadirinpun menjawab, “Ya !”. Maka Nasruddin berkata, “Baiklah, karena kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan maka aku tidak akan membuang waktu kalian yang sangat berharga.” Kemudian ia turun dari mimbar dan berjalan pulang. Kali ini orang-orang benar-benar dibuat bingung dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi dan mengundangnya agar datang lagi minggu depan menyampaikan khutbah.
Minggu depannya, ketika naik mimbar, Nasruddin lagi-lagi bertanya yang sama, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Kali ini hadirin sudah bersiap-siap untuk pertanyaan itu, maka sebagian dari mereka menjawab “Tidak !” dan sebagian lagi menjawab “Ya !”Nasruddin pun berkata lagi, “Baiklah, kalau begitu sebahagian yang sudah tahu bisa menceritakan kepada sebahagian lainnya yang belum tahu” dan ia pun kemudian turun meninggalkan mimbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar