Selasa, 03 Januari 2012

Hubungan Geografi, Sejarah dan Sosiologi


A.  Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya.  Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum  sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.
Geografi, sejarah, dan antropologi dan sosiologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial. 
B.  Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi  peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi   sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).
1.      Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2.      Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3.      Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4.      Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5.      Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
C.  Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.
D. Implementasi Korelasi antara Geografi,Sejarah dan Sosiologi dalam Kehidupan Sehari-hari
 Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu dalam hal Pariwisata contohnya adalah Candi Borobudur yang menjadi obyek wisata.
Dalam kajian  Sejarah memberikan penekanan pada peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian penting pada periodesasi tertentu.Dalam mengkaji hal pariwisata yaitu bagaimana Candi Borobudur bisa di buat,peristiwa apa yang melatar belakanginya,mengapa pernah menjadi keajaiban dunia, tentulah semua itu perlu di pelajari dan di kaji melalui disiplin ilmu sejarah.
Dalam kajian Geografi, memberikan penekanan pada kajian kewilayahan yaitu dimana lokasi Candi Borobudur,ketejangkauannya hingga memungkinkan menjadi objek pariwisata, Bagaimana morfologinya hingga menjadikan bisa berdirinya sebuah candi besar yaitu Candi Borobudur.tentulah semua itu perlu kita pelajari dan dikaji melalui disiplin ilmu geografi.
Dalam memberikan penekanan pada kajian sosiologi kontribusinya lebih pada struktur sosial, perubahan sosial, interaksi sosial dan lainnya,Dalam pariwisata ini bisa kita pelajari bagaimana kita berinteraksi dengan warga Magelang yang sebagai Penduduk Asli di sekitar Candi Borobudur.Bagaimana juga stuktur masyarakat magelang. Semua kita Pelajari dalam disiplin ilmu Sosiologi.
Ketiga disiplin ilmu itu sangat terkait dan terintegrasi, Keterkaitan antarbidang ilmu yang memunculkan Ilmu Pengetahuan Sosial itu menunjukkan bahwa dalam studi sosial kita tidak dapat mengandalkan satu bidang ilmu saja, akan tetapi harus integratif dengan bidang ilmu lain, guna mendapatkan suatu kajian yang luas dan mendalam. Hal ini juga bertolak dari pemikiran kajian ilmu sosial pengetahuan yang berfokus kepada perilaku manusia, baik secara individual maupun kelompok, adalah sulit hanya mengandalkan satu bidang ilmu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar